NEWS UPDATE :  

BERITA

Tak Sekadar Dongeng! Begini Sengitnya Pertarungan Imajinasi Bahasa Inggris Siswa SD se-Lembata di Panggung SANPIO

Suasana penuh semangat membakar panggung SMPK St. Pius X (SANPIO) Lewoleba pada 24 Oktober 2026, kala puluhan siswa Sekolah Dasar se-Kabupaten Lembata berkumpul untuk beradu bakat dalam ajang English Storytelling Competition. Mengusung tema yang menggugah, "Let your story inspire others", kompetisi yang dimotori oleh English Club SANPIO ini sukses menyedot perhatian dan membuktikan bahwa anak-anak Lembata memiliki nyali besar untuk unjuk gigi dalam berbahasa Inggris. Acara ini dibuka dengan penuh karisma oleh Master of Ceremony dari anggota English Club, disusul sambutan membara dari Axel Van Kapitan, Ketua OSIS sekaligus anggota senior English Club SANPIO. Di hadapan para peserta, Axel menegaskan bahwa bercerita bukanlah sekadar merapal teks dari buku, melainkan sebuah seni menghidupkan bahasa, menjembatani imajinasi, dan menumbuhkan rasa percaya diri. Ia pun mengajak para peserta untuk menaklukkan rasa gugup dengan senyuman dan menikmati setiap detik di atas panggung.

Penampilan memukau para pendongeng cilik ini disaksikan dan dinilai langsung oleh dewan juri yang kompeten, yakni Longginus Laga Belan, S.Pd., M.Pd. (guru Bahasa Inggris SMAN 2 Nubatukan), Thomas Didimus Hugu, S.Pd., M.Pd. (guru Bimbingan Konseling SMAN 1 Nubatukan), dan Yohana Venensia Bidi Lua, S.Pd., Gr., M.Hum. (Guru Bahasa Inggris SMPK St. Pius X Lewoleba). Mereka dibuat takjub oleh keliaran imajinasi yang dibalut apik dalam bahasa Inggris. Panggung literasi ini diwarnai oleh fabel-fabel klasik, seperti kisah persahabatan tak terduga dalam The Lion and the Mouse yang dibawakan oleh Smiorosa Nogo Tolok dari SDK 2 Angela Marici, hingga intrik kelinci cerdik dalam The Rabbit and the Stolen Carrot oleh Tri Amira Ivana Eduard dari SDK 1 St. Tarsisius Lewoleba, dan A Tricky Rabbit yang diceritakan penuh jenaka oleh Lorensa Adelaidta Keral dari SDN Kotabaru.

Tak hanya fabel, pesona dongeng kerajaan dan keajaiban turut menghipnotis penonton. Elvah Lusia Kewa Udak dari SDK St. Don Bosco Lewoleba membawa penonton menyusuri kisah The Girl in the Tower, sementara keajaiban Cinderella dihidupkan kembali dengan menawan oleh Agnes Ina Kehera Making dari SDK St. Theresia Lamahora dan Cassandra Chrystiani Tallo dari SDI I Lewoleba. Pesona keajaiban alam peri juga hadir melalui Eufrasia Bulu Goba dari SD Inpres I Lewoleba lewat kisah Thumbelinna, serta Gracia Ciputri Lembata dari SDK St. Don Bosco Lewoleba yang menjelajahi misteri The Little Rabbit and the Magic Forest. Bahkan, petualangan klasik Pinocchio pun dituturkan kembali dengan gaya yang sangat khas oleh Genade Gervasius Paty Lewerang dan Brandon Mikael Sogen dari SDN Lamahora.

Imajinasi audiens semakin dimanjakan saat cerita-cerita binatang dengan pesan moral mendalam dilantunkan berturut-turut. Karakter keledai tua dalam The Old Donkey dibawakan dengan penuh penghayatan oleh Andrew Laurensio Sogen dan Matilda Baha Amuntoda. Kisah legendaris The Ant and the Grasshopper dituturkan apik oleh Yohana Violet Dasilva serta Margaritha Alexa Cahaya Leo, disusul kisah balas budi The Ant and the Dove oleh Stevanie A. Edelweis Tedemaking. Ketegangan berlanjut lewat kelicikan dalam The Clever Fox and Tricky Tiger dari Felicia Evelyn Junior, The Lion Who Couldn't Stop Laughing oleh Francisco De Sales Demong Peuuma, dan serunya arena balap dalam The Rabbit, The Turtle, and the Big Race dari Agatha Trecianini Redang. Rangkaian fabel ditutup dengan manis oleh Fransiska Aprilia Soge lewat The Butterfly who was afraid to Fly, Magdalena Ema Kraeng dengan The Little Turtle Who Want to Fly, impian sang katak dalam The Frog Who want to be a Prince oleh Josephin Nadinne Riantoby, dan misteri The Monkey and the Missing yang diceritakan Agnes Grasia Elmona Ledo.

Yang tak kalah membanggakan, panggung SANPIO juga menjadi saksi bagaimana siswa-siswi ini mengangkat kekayaan legenda Nusantara. Epiknya The Legend of Lake Toba bergema kuat berkat penampilan brilian dari Maria Cherilavya Loda Boleng, Kornelia Matilda Hingi Leuweheq, dan Laurensius Liku Wadan. Kearifan lokal Lembata turut mendapat panggung istimewa saat Maria Barek Lamak dari SDN Lamahora memukau hadirin dengan The Legend of Guti Nale, yang kemudian dipadukan dengan pesona dongeng Nusantara Timun Emas dari Marsyla Putri. Cerita-cerita tentang inspirasi dan keindahan alam, seperti The Proud of Little Girl (Eisyana Lyidia Longley Wowur), The Story of Oba (Zafa Almaira Sulaiman), The Gigle Tree (Alexandra L. Maya Ose Ujan), The Magic Umbrella (Surat Wara Cheline Sendyani), hingga indahnya pesona The Story of Rainbow (Maria Salvator Ina Mura) sukses melengkapi palet emosi seisi ruangan.

Dari puluhan penampilan gemilang yang menyulitkan dewan juri, mahkota juara akhirnya berlabuh pada tiga pendongeng dengan performa paling bersinar. Josephin Nadinne Riantoby dari SDK 1 St. Tarsisius Lewoleba berhasil keluar sebagai Juara 1, disusul oleh Maria Barek Lamak dari SDN Lamahora yang mengunci posisi Juara 2, serta Felicia Evelyn Junior dari SDK 1 St. Tarsisius Lewoleba yang meraih Juara 3.

Pada akhirnya, kompetisi yang diinisiasi oleh English Club SANPIO ini membuktikan satu hal krusial: bahasa Inggris bukanlah momok menakutkan bagi anak-anak di Lembata, melainkan sayap yang siap menerbangkan imajinasi mereka melintasi batas dunia. Melalui keberanian menaiki panggung, melawan rasa gugup, dan merangkai kata demi kata, puluhan anak ini sejatinya telah keluar sebagai pemenang sejati. Mereka tidak hanya datang untuk memperebutkan trofi, tetapi berhasil merangkum jejak nyata bahwa keberanian berekspresi adalah kunci untuk saling menginspirasi dan membuka gerbang masa depan yang lebih gemilang. Let the stories begin, and let them inspire us all!.

Share to :