NEWS UPDATE :  

BERITA

Pancaran Kasih dan Pengabdian di Tanah Lembata: Syukur Enam Momentum Bersejarah di Aula Intan Sanpio

LEWOLEBA – Suasana penuh hikmat dan sukacita menyelimuti Aula Intan SMPK St. Pius X Lewoleba (Sanpio) pada Senin, 24 Agustus 2026. Hari itu bukan sekadar hari Senin biasa, melainkan sebuah perayaan syukur akbar yang merangkum enam peristiwa bersejarah dan penuh makna bagi komunitas pendidikan di bawah naungan Yayasan Maria Bintang Samudra. Mengusung tema yang mendalam, "Tak ada yang mencukupi untuk mengucap syukur dan memuliakan Allah. Dimuliakan nama Tuhan untuk selama-lamanya," perayaan ini menjadi bukti nyata akan karya Tuhan yang tiada henti.
Perayaan istimewa ini dirangkai dalam sebuah simfoni syukur yang yang digemakan dalam pujian-pujian meriah Paduan Suara Sanpio Choir. Seluruh umat yang hadir memanjatkan doa syukur atas perayaan Pesta Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB) serta Pesta Nama Asrama Sterre der Zee yang jatuh pada tanggal 15 Agustus. Kegembiraan itu berkelindan dengan peringatan bertambahnya usia dua lembaga pendidikan kebanggaan, yakni perayaan HUT ke-76 SDK 1 St. Tarsisius yang telah berlalu pada 15 Agustus, serta HUT ke-68 SMPK St. Pius X pada tanggal 21 Agustus 2026. Menambah kekhidmatan, misa ini juga menjadi penanda dibukanya Tahun Ajaran Baru 2026/2027, sekaligus merayakan Pesta Perak 25 tahun hidup membiara dari Sr. Yustisia CB yang jatuh tepat pada 15 Agustus 2026.
Misa yang penuh berkat tersebut dipimpin secara konselebrasi oleh empat orang imam. Rm. Blasius Keban, Pr, selaku Pastor Paroki Sta. Maria Banneaux Lewoleba, bertindak sebagai konselebran utama. Beliau didampingi oleh Deken Lembata, Rm. Blasius Kleden, Pr, yang bertugas membawakan homili yang menggugah, serta mantan Deken Lembata yang kini menjabat Ketua Yayasan Papa Miskin, Rm. Sinyo Dagomes, Pr, dan Rm. Goris Weking, Pr, yang melantunkan bacaan Injil.
Dalam homilinya, Rm. Blasius Kleden, Pr, mengangkat pesan sarat makna bertajuk “Mari dan Lihatlah”. Terinspirasi dari kisah Filipus yang mengajak Natanael, beliau menyerukan agar seluruh umat mampu memperkenalkan kehadiran Yesus melalui tindakan dan karya nyata sehari-hari. Romo Blasius menegaskan bahwa wajah Kristus—Sang Mesias yang mengenal manusia hingga ke relung hati terdalam—tampak nyata melalui pengabdian para guru yang penuh semangat, kekompakan, dan kepedulian di lingkungan SMPK St. Pius X serta SDK St. Tarsisius, begitupun melalui prestasi dan sportivitas para siswanya. Beliau juga mengajak umat mengapresiasi kesetiaan Sr. Yustisia CB selama seperempat abad, serta meneladani para Suster CB yang tanpa lelah melayani di bidang pendidikan, kesehatan, asrama, hingga pertanian dengan membawa semangat Santo Carolus Borromeus.
Momen haru kian terasa ketika Sang Yubilaris, Sr. Yusticia, CB, membagikan refleksinya atas 25 tahun perjalanan panggilannya. Ia mengenang pesan hangat dari sang ayah saat pertama kali meninggalkan rumah kecilnya untuk melayani Tuhan; sebuah jaminan bahwa pintu rumah akan selalu terbuka jika ia merasa tak bahagia. Namun, seperempat abad telah membuktikan kebahagiaan sejatinya dalam panggilannya tersebut. Baginya, perjalanan panjang ini bukanlah sebuah persembahan kesempurnaan hidup, melainkan persembahan diri yang terus-menerus disempurnakan oleh tangan Tuhan sendiri yang senantiasa menyertainya.
Semangat pelayanan yang tak kunjung padam itu turut ditegaskan oleh Ketua Yayasan Maria Bintang Samudra, Sr. Goreti, CB. Dalam sambutannya, beliau membawa ingatan umat melintas zaman ke kota Maastricht, Belanda, menceritakan kembali sejarah Bunda Elisabeth Gruyters yang pindah ke kota itu pada tahun 1821. Berangkat dari keprihatinan melihat kemiskinan dan penderitaan akibat peperangan, Bunda Elisabeth merindukan sebuah biara untuk melayani si miskin. Sebuah ilham suci pada 15 Agustus 1836 saat berdoa khusyuk di hadapan patung Maria Bintang Samudra mengantarkan pada berdirinya Kongregasi Suster CB secara resmi pada 29 April 1837. Spirit ketangguhan dan belas kasih dari Bunda Elisabeth inilah yang kini menjadi pilar utama di Yayasan Maria Bintang Samudra, bermanifestasi kuat dalam semboyan "Cerdas Berbelarasa" milik SMPK St. Pius X Lewoleba. Nilai kepedulian ini telah mewujud nyata melalui Gerakan Seribu (Geser), sebuah inisiatif mulia para siswa untuk membantu para korban bencana gempa bumi di Flores.
Setelah perayaan Ekaristi, sukacita dilanjutkan dengan resepsi sederhana nan hangat. Acara ramah tamah ini dipandu dengan sangat meriah oleh Master of Ceremony kondang yang juga merupakan guru SMPK St. Pius X, Ibu Venensia Bidi Lua, S.Pd, M.Hum, Gr.
Kemeriahan acara semakin paripurna lewat berbagai persembahan seni yang memukau, sebagai wujud syukur dan apresiasi atas penyelenggaraan pendidikan di bawah naungan Yayasan Maria Bintang Samudra. Para hadirin dihibur oleh gemulai Tarian Kreasi "Wonderland" dari Grup Tari Sanpio, alunan merdu dari band serta duet siswa Grup Musik Sanpio, hingga pesona tarian dari siswa SDK St. Tarsisius, para Aspiran CB, dan penghuni Asrama Sterre Der Zee. Semuanya melebur dalam kegembiraan, menutup perayaan hari itu dengan kenangan indah dan komitmen pelayanan yang terus menyala.
Persembahan Band SANPIO           

Share to :
Kirim Pesan