NEWS UPDATE :  

BERITA

"Kuasai" Pantai Paigopak! Ratusan Pasukan Cokelat SMPK St. Pius X Lewoleba Tempa Karakter Baja di Kemah Akbar HUT Pramuka ke-65

LEWOLEBA — Hembusan angin pesisir dan deburan ombak Pantai Paigopak di Desa Merdeka, Kecamatan Lebatukan, mendadak berpadu dengan derap langkah tegak dan gelora semangat juang yang membara. Hamparan pasir putih di bawah naungan deretan pohon kelapa yang biasanya bernuansa syahdu, kini "dikuasai" dan disulap menjadi kawah candradimuka bagi ratusan generasi muda tangguh. Memperingati momentum bersejarah Hari Ulang Tahun (HUT) ke-65 Gerakan Pramuka Indonesia, pangkalan SMPK Santo Pius X Lewoleba menggelar sebuah kemah besar yang luar biasa megah dan sarat akan nilai edukasi. Mengambil garis 𝘚𝘵𝘢𝘳𝘵 melalui apel pembukaan yang berlangsung sangat khidmat pada hari Rabu, 12 Agustus 2026, perkemahan akbar ini siap mencetak para patriot muda yang mandiri hingga penutupannya pada 14 Agustus 2026 mendatang.


Gegap gempita perhelatan ini sama sekali tidak main-main. Totalitas ditunjukkan oleh seluruh elemen sekolah; barisan dewan guru secara penuh "turun gunung" untuk mendampingi, mengawasi, dan berbaur bersama dua ratus tiga puluh lima siswa yang memadati area perkemahan. Pasukan cokelat kebanggaan ini bernaung kokoh di bawah panji Gugus Depan Putra dengan nomor 06/025 dan Gugus Depan Putri bernomor 06/026. Kekuatan besar tersebut diorganisir secara taktis ke dalam lima belas regu, yang terdiri dari delapan regu putri dan tujuh regu putra. Dengan tongkat di tangan dan hasduk merah putih yang melingkar rapi di leher, setiap regu berbaris tegap membelah area pantai, memancarkan kesiapan penuh untuk menaklukkan setiap tantangan alamiah dan gemblengan mental yang telah disiapkan oleh para pembina.


Nuansa perkemahan terasa begitu hidup dan menggetarkan hati. Di satu sudut, terlihat kehangatan persaudaraan yang terjalin erat di antara para guru dan kakak pembina yang tak kenal lelah mengayomi anak didiknya. Di sudut lain, kedisiplinan tingkat tinggi terpancar dari raut wajah para penggalang yang berbaris rapi memberikan penghormatan kepada Sang Saka Merah Putih, berlatarkan birunya laut dan langit Lebatukan. Menjelang senja, ketika cahaya keemasan matahari mulai menyentuh cakrawala, anak-anak dengan saksama duduk melingkar di atas pasir pantai, menyerap setiap instruksi dan materi, meresapi esensi sejati dari menyatu dengan alam semesta.


Lebih dari sekadar euforia mendirikan tenda, menyalakan api unggun, atau bernyanyi bersama, kemah besar ini adalah titik tolak krusial bagi penanaman nilai-nilai luhur kehidupan. Hal ini ditegaskan secara lantang dan menggugah oleh Kakak Ketua Majelis Pembimbing Gugus Depan (Mabigus), Maria Imakulata S. Erap, S.Pd., MM., saat memberikan wejangan agungnya di hadapan ratusan peserta. Dengan nada penuh wibawa, beliau mengajak seluruh elemen yang hadir untuk menarik benang merah inspirasi dari para pemimpin dan tokoh Pramuka terdahulu. Tokoh-tokoh pahlawan tersebut telah mendedikasikan tenaga, pikiran, serta hatinya demi kejayaan Gerakan Pramuka. Semangat perjuangan yang tak pernah padam itu, menurut Kakak Maria, adalah tongkat estafet yang harus terus diteruskan dari hari ke hari, agar Gerakan Pramuka senantiasa menjadi rahim utama lahirnya generasi penerus bangsa yang berkarakter kuat.


Secara khusus dan mendalam, Kakak Maria Imakulata mengobarkan api semangat di dada para Pramuka Penggalang untuk menjadikan kedisiplinan sebagai napas dalam setiap gerak dan tindakan. Beliau memotivasi anak-anak didiknya untuk terus menumbuhkan jiwa kepemimpinan yang berlandaskan pada rasa tanggung jawab, menjunjung tinggi kesetiakawanan, serta rela turun tangan membantu sesama. Di tengah indahnya keberagaman, para peserta secara tegas diminta untuk mempererat tali persaudaraan tanpa pernah membedakan sekat-sekat suku, agama, maupun latar belakang. Rangkaian kegiatan yang menguras keringat ini harus dijalani dengan hati yang riang gembira dan dibalut oleh semangat pantang menyerah. Beliau menanamkan sebuah prinsip pamungkas: seorang Pramuka sejati tidak hanya diukur dari kehebatannya saat bertahan hidup di arena perkemahan, melainkan harus mampu menjadi teladan hidup dalam keseharian di sekolah, keluarga, dan masyarakat.


Sebagai konklusi dari pidato yang membakar jiwa tersebut, Kakak Mabigus menyerukan panggilan aksi kepada seluruh penghuni bumi perkemahan—baik para Kakak Pembina yang penuh dedikasi maupun adik-adik Penggalang—untuk bahu-membahu menyukseskan acara ini. Harmoni kebersamaan dijaga dengan mengikuti instruksi secara gembira, saling menghormati, serta terus menjaga kekompakan, keamanan, kebersihan, dan ketertiban lingkungan pantai. Pada akhirnya, segala letih bermuara pada perwujudan nyata pengamalan Dasa Dharma Pramuka, khususnya nilai ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, cinta alam dan kasih sayang sesama manusia, serta sikap patriot yang sopan dan kesatria. Kakak Maria menitipkan amanat penutup yang akan terus terngiang: jadikan setiap pengalaman berkemah sebagai pelajaran berharga, setiap rintangan sebagai kesempatan emas untuk bertumbuh, dan setiap detik kebersamaan sebagai kenangan abadi yang mengikat persaudaraan keluarga besar SMPK St. Pius X Lewoleba. Selamat memandu, Satyaku Kudarmakan, Darmaku Kubaktikan!

Share to :