SMPK St. Pius X Lewoleba Prakarsai Diklat Guru dan Pegawai Yayasan Maria Bintang Samudra Wilayah NTT, Cetuskan Goal "Cerdas Berbelarasa"
LEWOLEBA — Dalam upaya mempersiapkan keunggulan akademik dan manajerial menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027, SMPK St. Pius X Lewoleba mengambil langkah proaktif dengan memprakarsai sekaligus menjadi tuan rumah kegiatan Pendidikan dan Pelatihan serta Rapat Kerja Pendidikan (Rakerdik) bagi guru dan pegawai di bawah naungan Yayasan Maria Bintang Samudra wilayah Nusa Tenggara Timur. Kegiatan percontohan yang berlangsung selama tiga hari, mulai Selasa hingga Kamis, 14 sampai 16 Juli 2026 ini, dirancang sebagai forum perjumpaan strategis bagi lembaga pendidikan se-yayasan guna menyatukan visi pembinaan sekolah. Sebagai tuan rumah, SMPK St. Pius X Lewoleba menyambut kehadiran para pendidik dan tenaga kependidikan dari berbagai satuan pendidikan dari beberapa daerah, yaitu SDK St. Tarsisius Lewoleba, TK Wejang Asih Mano Ruteng, dan TK St. Carolus Boromeus Loce Manggarai. Kolaborasi antar jenjang mulai dari pendidikan anak usia dini hingga sekolah menengah pertama ini menjadi landasan penting dalam mengokohkan ekosistem pendidikan yang berkelanjutan di wilayah Nusa Tenggara Timur.

Melalui tema utama "Penguatan Kapasitas Pendidik dan Tenaga Kependidikan dalam Meningkatkan Mutu Pembelajaran dan Tata Kelola Sekolah", kegiatan ini difokuskan sebagai ruang refleksi kinerja, penguatan kolaborasi, dan transformasi program pendidikan di tahun ajaran baru. Nuansa kedisiplinan dan nilai-nilai kebersamaan telah terasa sejak hari pertama, di mana para peserta yang mengenakan busana putih dan selendang disambut dengan sapaan hangat di pintu masuk serta doa pembuka yang dipimpin oleh Bernardus Vianey Gole Tolok, sebelum acara resmi dibuka dengan ucapan selamat datang dari Ketua Yayasan Maria Bintang Samudra, Sr. El Wahyuningsih, S.Pd,MM. Acara pembukaan yang dipandu oleh moderator Yohana Venensia Bidi Lua tersebut menjadi penanda dimulainya proses orientasi program yang dipaparkan secara komprehensif oleh narasumber utama, Ambrosius Sigit Kristiantoro. Beliau selanjutnya memandu sesi fundamental mengenai pemahaman desain pembelajaran mundur atau Understanding of Backward Design, yang kemudian diperdalam pada sesi sore hari melalui penerapan kurikulum berbasis Backward Design dalam bidang akademik dan kesiswaan.

Daya tarik utama yang menjadi magnet serta memberi bobot istimewa dalam diklat ini adalah kehadiran dua narasumber berpengalaman luas, yakni Ambrosius Sigit Kristiantoro dan Yustina Sri Hartati, yang berlatar belakang afiliasi dari lembaga pendidikan ternama, Yayasan Tarakanita Jakarta. Kehadiran keduanya tidak sekadar memaparkan teori pedagogis, melainkan menjadi jembatan transfer wawasan dari pusat kemajuan pendidikan menuju sekolah-sekolah di Nusa Tenggara Timur. Selama sesi berlangsung, Ambrosius Sigit Kristiantoro dan Yustina Sri Hartati membagikan begitu banyak rekam jejak, pengalaman best practice, serta cerita inspiratif tentang bagaimana Yayasan Tarakanita melayani dan mengelola bidang pendidikan secara profesional, unggul, dan berdaya saing di ibu kota Jakarta. Penekanan pada kisah-kisah nyata pelayanan pendidikan yang penuh dedikasi tersebut disampaikan dengan satu harapan besar, yakni agar spirit dan api inspirasi dari pelayanan Yayasan Tarakanita juga dapat menular serta mengobarkan semangat baru bagi seluruh pendidik di Yayasan Maria Bintang Samudra.


Pelatihan hari kedua semakin mengintensifkan perpaduan antara inspirasi pelayanan tersebut dengan aspek teknis pedagogis, di mana para peserta yang mengenakan seragam putih mengikuti presentasi implementasi desain sekolah bersama Ambrosius Sigit Kristiantoro. Dalam sesi diskusi yang dipandu oleh moderator Yakobus Batu Manuk dan diawali doa oleh Yohanes Rudianto Bogar ini, para peserta diajak membedah tantangan nyata pembelajaran. Memasuki siang hingga sore hari, narasumber Yustina Sri Hartati mengambil alih sesi dengan memadukan pengalaman manajerial khas Tarakanita ke dalam penguatan teknis Kriteria Ketercapaian Tujuan Pembelajaran (KKTP) serta perancangan asesmen berorientasi High Order Thinking Skills (HOTS). Pendalaman materi ini dinilai sangat krusial agar instrumen penilaian yang diterapkan oleh setiap guru di kelas dapat memicu analisis kritis dan pemecahan masalah bagi peserta didik, bukan sekadar hafalan teoritis semata.


Satu pencapaian paling monumental dari penerapan kerangka Backward Design yang diperkaya oleh wawasan pelayan pendidikan tersebut adalah keberhasilan mencetuskan rumusan tujuan jangka panjang atau goal bagi satuan pendidikan SMPK St. Pius X Lewoleba, yakni "Cerdas Berbelarasa". Pemetaan tujuan ini menjadi kompas filosofis sekaligus panduan operasional dalam merancang modul ajar dan budaya sekolah, sehingga kecerdasan intelektual siswa berjalan selaras dengan keunggulan integritas moral, kedisiplinan, dan semangat cintakasih yang berbelarasa. Hasil rumusan goal tersebut langsung diintegrasikan ke dalam sesi hari ketiga, di mana seluruh peserta menampilkan wujud identitas lokal dengan mengenakan balutan busana tenun daerah. Pada hari penutupan yang dipandu oleh moderator Hermantinus Sili Lelan dan dibuka dengan doa oleh Gabriel Yohanes Wayong tersebut, Yustina Sri Hartati memaparkan delapan standar pendidikan dan akreditasi sekolah sebagai penjaminan mutu tata kelola lembaga yang akuntabel dan berstandar tinggi.




Rangkaian kegiatan diklat dan rapat kerja ini akhirnya ditutup melalui sesi perumusan komitmen dan tindak lanjut, di mana seluruh dewan guru serta tenaga kependidikan bersepakat untuk mengimplementasikan spirit pelayanan dan ilmu profesional yang didapat dari kedua narasumber ke dalam karya nyata di sekolah masing-masing. Harmoni persaudaraan dan tekad pengabdian yang menyala di akhir acara ditandai dengan pengumandangan lagu Indonesia Raya serta Mars Santo Pius yang dipandu oleh dirigen Maximiliana Somi Payong dengan iringan organis Antonius Nolasco. Kesuksesan penyelenggaraan kegiatan yang dipimpin oleh Kepala SMPK St. Pius X Lewoleba, Sr. Maria Imakulata, S. Erap, S.Pd., M.M. ini membuktikan bahwa sinergi lintas sekolah dan penyerapan inspirasi dari lembaga pendidikan unggul seperti Yayasan Tarakanita mampu menjadi katalisator transformasi bagi Yayasan Maria Bintang Samudra, guna mencetak generasi masa depan Nusa Tenggara Timur yang unggul secara akademis serta teguh dengan semangat berbelarasa.
Share to :
SMP KATHOLIK ST. PIUS X LEWOLEBA