Menjadi Roti dan Cahaya: Kehangatan Natal Gabungan SMP St. Pius X dan SDK 1 St. Tarsisius Lewoleba
LEWOLEBA – Gema sukacita Natal dan harapan baru menyongsong tahun 2026 menyatukan dua keluarga besar lembaga pendidikan di bawah naungan Yayasan Maria Bintang Samudra. Pada hari Kamis, 8 Januari 2026, halaman sekolah menjadi saksi kebersamaan yang hangat antara SMP St. Pius X Lewoleba dan SDK 1 St. Tarsisius. Tidak sekadar seremonial tahunan, perayaan ini menjadi momentum penguatan persaudaraan bagi seluruh guru, pegawai, dan para siswa untuk melangkah bersama di tahun yang baru.
Puncak dari kegembiraan hari itu ditandai dengan Perayaan Misa Syukur yang berlangsung khidmat. Dipimpin oleh RD Emanuel Kumanireng, suasana ekaristi terasa begitu menyentuh hati. Dalam kesempatan istimewa ini, imam yang akrab disapa Romo Eman tersebut menyampaikan homili yang sarat makna, mengajak seluruh Civitas Akademika Yayasan Maria Bintang Samudra untuk merenungkan kembali esensi pelayanan mereka dalam dunia pendidikan.
Romo Eman mengawali pesannya dengan refleksi mendalam tentang tempat kelahiran Yesus. Ia mengingatkan bahwa kita harus belajar dari Yesus yang lahir di Betlehem, sebuah nama yang secara harfiah berarti "Kota Roti". Filosofi ini ia tarik menjadi sebuah ajakan reflektif bagi para guru dan siswa, agar hendaknya setiap pribadi mampu menjadi selayaknya roti yang rela membagi diri. Semangat berbagi ini diharapkan menjadi nutrisi yang menghidupkan orang banyak, sebuah simbolisasi dari pelayanan yang tulus tanpa pamrih.
Lebih jauh, Romo Eman juga menyoroti sikap batin yang harus dimiliki dalam menyongsong tahun 2026. Ia mengajak jemaat untuk meneladani para gembala di padang Efrata. Seperti para gembala yang tanpa ragu bergegas untuk berjumpa dengan bayi Yesus, demikian pula hendaknya seluruh warga sekolah memiliki kesigapan dan kemauan keras untuk memperjuangkan kebaikan dalam keseharian. Semangat itu, menurutnya, harus dilandasi oleh poin ketiga yang tak kalah penting, yaitu semangat pengorbanan dalam diri. Tanpa kerelaan berkorban, pelayanan pendidikan yang berkualitas mustahil terwujud. Menutup homilinya yang meneguhkan iman tersebut, Romo Eman menitipkan pesan pamungkas yang terpatri kuat di benak para hadirin, yakni ajakan untuk menjadi cahaya bagi orang-orang kecil, sebuah panggilan untuk selalu berpihak pada mereka yang membutuhkan.
Usai santapan rohani yang menguatkan jiwa, suasana perayaan beralih menjadi panggung gembira yang memamerkan kreativitas siswa. Kemeriahan pecah ketika siswa-siswi unjuk kebolehan dalam pentas seni yang telah dipersiapkan dengan matang. Panggung diwarnai oleh penampilan drama Natal yang memukau, membawa penonton kembali menyelami kisah kelahiran Sang Juru Selamat. Suasana semakin syahdu ketika siswa-siswi SDK 1 St. Tarsisius membacakan puisi dengan penuh penghayatan, disusul dengan lantunan lagu-lagu Natal yang dibawakan oleh siswa-siswi SMPK St. Pius X.
Keceriaan hari itu tidak hanya milik para siswa. Para pendidik pun turut merasakan hangatnya kebersamaan lewat sesi khusus yang tak kalah seru. Acara dimeriahkan dengan tukar kado antar-guru SMP St. Pius X. Gelak tawa dan senyum sumringah mewarnai momen ketika setiap guru membuka kado dari rekan sejawatnya. Momen sederhana ini menjadi simbol kuatnya ikatan kekeluargaan dan solidaritas antar-rekan kerja, menutup rangkaian perayaan dengan penuh kesan manis untuk memulai peziarahan panjang di tahun 2026.
SMP KATHOLIK ST. PIUS X LEWOLEBA